Warning: scandir(/home/pgsd/public_html/wp-content/uploads/landing-pages/templates/): failed to open dir: No such file or directory in /home/pgsd/public_html/wp-content/plugins/landing-pages/classes/class.load-extensions.php on line 239

Warning: scandir(): (errno 122): Disk quota exceeded in /home/pgsd/public_html/wp-content/plugins/landing-pages/classes/class.load-extensions.php on line 239

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/pgsd/public_html/wp-content/plugins/landing-pages/classes/class.load-extensions.php on line 241
SURAT DARI BEAUFORT – PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
Universitas Negeri Semarang

Agenda Jurusan | PGSD FIP Unnes

september, 2017

Sort Options

No Events

RUANG KITA

<<<Orang yang bijak adalah yang tahu siapa yang harus dia percaya. Orang yang lebih bijak adalah dia yang selalu bisa dipercaya>>>

SURAT DARI BEAUFORT

*HIDUP ADALAH TENTANG MEMBUAT CERITA*

Dalam hidup ini sering kali kita dihadapkan pada pilihan-pilihan. Setiap pilihan akan mengantarkan kita pada kenyataan dan keadaan yang berbeda. Teori _Butterfly Effect_ mengatakan bahwa satu kepakan kecil sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan Tornado besar di Texas beberapa bulan kemudian, dari sini kita bisa tarik makna bahwa satu tindakan kecil saja dapat menimbulkan serangkaian kegiatan hingga dapat menghasilkan sesuatu yang besar dan berdampak pada lingkungan.

Sering saya sampaikan kepada teman-teman,

“Sadari bahwa cerita (hidup) itu dibuat, maka buatlah cerita terbaikmu hari ini, sehingga suatu saat nanti dapat menginspirasi banyak orang.”

Kalimat ini saya tulis ketika saya berada di Musholla Pasca Sarjana Kampus Bendan Ngisor saat itu adalah hari pertama saya masuk kuliah pasca sarjana. Dengan _background_ ekonomi keluarga yang kurang, kemampuan akademik yang biasa, namun semangat belajar yang tinggi saya putuskan untuk menggunakan tabungan selama kuliah demi membayar biaya registrasi mahasiswa baru. Bangga bisa duduk dengan para calon master saat itu. Merupkan cerita yang menarik menurut saya karena tidak banyak mahasiswa yang baru lulus kuliah namun masih mempunyai tabungan. Saya bersyukur karena saat masih menjadi mahasiswa S1 secara finansial saya terbantukan dengan memberi kursus privat sore dan malam, bantu-bantu sebagai tenaga laboran di kampus, dan membuat karya tulis, hasil tabungan itu cukup untuk membayar registrasi sebagai mahasiswa baru program pascasarjana.

Ternyata keinginan menjadi master dalam waktu 2 tahun tergoyahkan saat mendengar informasi ada tawaran untuk menjadi pendidik untuk anak-anak Indonesia di Sabah-Malaysia selama 2 tahun. Setiap orang memiliki pilihannya masing-masing, waktu itu saya berpikir bahwa ini adalah kesempatan langka baru saya dengar tentang ini, S2 bisa ditinggal dulu. Saya renungkan, lalu saya minta petunjuk dan restu dari orangtua, tak lupa dengan terus berdoa. Meskipun berat akhirnya orang tua mengizinkan. Saya kemudian mengikuti seleksi. Saya ikuti rangkaian alurnya. Diterima atau tidak, yang penting saya sudah mencoba. Kalau kita mencoba kita masih punya dua kemungkinan, berhasil dan tidak. Namun kalau kita tidak mencoba, kemungkinannya hanya satu, pasti tidak. Dan sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk senantiasa mencoba,  kemudian bertawakal.

Sesuai dengan panduan yang diumumkan, saya mengumpulkan berkas-berkas administrasi, informasi dari tim seleksi waktu itu ada ratusan berkas yang terkumpul dan akan dipilih 30 peserta untuk melanjutkan proses seleksi ke tahap berikutnya. Tim seleksi terdiri dari tim dari kampus dan tim dari P2TK Dikdas Kemendikbud. Sekitar seminggu kami tunggu pengumumannya, alhamdulillah saya termasuk satu dari 30 peserta seleksi itu.

Selanjutnya pada hari yang telah ditentukan kami menjalani serangkaian tes, antara lain psiko test, TPA, Bahasa Inggris, _Focus Group Discussion_ (FGD) peserta dibagi dalam kelompok-kelompok lalu diberikan sebuah masalah kemudian kami diminta untuk mencari solusi, presentasi (simulasi mengajar), dan terakhir wawancara. Ketika masuk ruangan seleksi saya melihat wajah-wajah yang tidak asing bagi saya, saya melihat adik kelas yang baru-baru saja lulus, wisudanya lebih awal dari teman-temannya dan mereka termasuk lulusan-lulusan terbaik di kampus kami. Saya melihat pula ada tutor Bahasa Inggris saya semasa saya mengikuti kursus di Pusat Bimbingan Belajar tempat ia mengajar, saya pernah belajar dengan dia, dia memiliki banyak pengalaman dan kompetensi mumpuni sehingga besar kemungkinan bagi dia untuk lolos dalam program ini. Saya lihat lagi ada teman dari teman kost saya yang mengajar di Sekolah Dasar Negeri Bertaraf Internasional (SDN BI) Semarang, saya dengar alasan mengapa dia bisa mengajar di sana bukan karena mendaftar, namun karena kepala sekolah meminta rekomendasi dari jurusannya, dipilihlah dia. Dia beberapa kali mengurusi kegiatan besar, sangat dipercaya oleh kepala sekolah, kemungkinan besar juga dia akan lolos pikir saya.

Saya masih ingat betul, saat tes tertulis dimulai semua peserta seluruh ruangan langsung senyap. Semuanya konsentrasi terhadap lembar demi lembar pertanyaan yang ada di hadapannya masing-masing. Saat FGD dan presentasi semua peserta sangat aktif sangat antusias. Ini menunjukkan bahwa yang ada dalam ruangan ini betul-betul orang-orang terbaik. Saya beruntung mendapat pengalaman seperti itu.

Sebelum hari seleksi, beberapa hari sebelumnya saya membaca apa-apa berkenaan dengan seleksi dan program ini. Saya terkejut, saat mulai mencari dengan kata kunci “Pendidikan anak Indonesia di Sabah-Malaysia”, bayangan saya sebelumnya bahwa sekolahannya mewah, lantai dan temboknya berwarna putih, tiap lorong-lorongnya ada anak-anak yang tengah membaca dan berdiskusi, setiap kelas ada komputer khusus guru dengan proyektor terpasang di setiap kelas, buku-buku billingual, ternyata apa yang saya pikirkan berbanding terbalik. Karena sebelumnya saya beranggapan bahwa karena sekolah ini di luar negeri segalanya pasti bagus. Namun saat saya baca artikel demi artikel saya baru sadar bahwa tempat yang akan saya datangi nanti adalah pusat-pusat belajar yang berada di tengah hutan sawit, jarak dengan jalan beraspal bisa sampai puluhan kilo meter, anak-anak belajar dimana saja, bisa di rumah warga, di musholla-musholla, tempat penitipan anak saat sore hari, jumlah tenaga pengajar yang terbatas, dan mengajarnya bisa pagi sampai malam. Namun dalam hati saya nyatakan saya siap. Ini mungkin seperti Gerakan Indonesia Mengajar pikir saya, saya pernah mengikuti seleksinya.

Tibalah waktu wawancara, hari sudah sore, satu persatu dipanggil. Pada saat tes wawancara saya masih ingat, ada pertanyaan
“Mengapa anda mau mengajar di tempat itu?”

Saya jawab,
“Karena saya ingin menjadi warga negara yang potensial, yang tidak hanya bekerja untuk diri saya sendiri namun juga ikut iuran membangun bangsa dan negara.”

“Lalu, apakah anda siap dengan keadaan di sana?”

Saya jawab,
“Saya siap. Saya suka mendaki gunung, bulan lalu saya ke Semeru. Saya sudah pernah mengalami kondisi seperti itu, tidak ada sinyal telfon, tidak ada listrik, dan minim saluran air bersih.”

Pertanyaan demi pertanyaan pun diberikan, akhirnya sesi wawancara pun selesai dan berjalan lancar. Seminggu kami menunggu pengumumannya. Alhamdulillah nama saya ada bersama delapan nama calon pendidik lainnya. Tanggal 27 Mei 2013 kami berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pembekalan dan bertemu dengan pendidik-pendidik hasil seleksi dari 5 LPTK lain (UNJ, UNY, UPI, UM, dan UNESA). Kemudian pada tanggal 30 Mei 2013 kami ber-58 pendidik diberangkatkan ke Sabah melalui jalur Jakarta-Kuala Lumpur-sempat berhenti di Bandara Brunei Darussalam karena cuaca buruk-lalu ke Kota Kinabalu, Sabah. Dan cerita itu berlanjut sampai sekarang.

“Sadari bahwa cerita (hidup) itu dibuat, maka buatlah cerita terbaikmu hari ini, sehingga suatu saat nanti dapat menginspirasi banyak orang.”

Beaufort, 7 November 2016
Yang selalu ingin berbagi cerita denganmu,

Muhammad Nur Huda
PGSD 2007

No Comments Yet

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *